corak 6 rszd“Kamu asli NTT?” adalah pertanyaan yang sering saya hadapi ketika bertemu dengan kawan baru untuk pertama kali, termasuk setelah beberapa minggu tinggal di Yogyakarta. Saya tidak tahu apa yang mereka bayangkan ketika mengucapkan “asli NTT” itu. Dari beberapa teman yang kemudian memberikan penjelasan, saya tahu, bahwa bagi mereka, orang NTT itu berarti orang yang kulitnya hitam, rambutnya keriting. Mencari jawaban dari pertanyaan tersebut adalah perkara yang sulit sekaligus mudah. Sulit, karena ada puluhan etnis dan bahasa daerah di NTT, dan kedua orang tua saya datang dari latar belakang etnis dan bahasa daerah yang berbeda, Manggarai dan Sabu. Mudah, karena secara geografis, kedua daerah tersebut berada dalam area NTT sebagai wilayah administratif. Untuk menghemat waktu dan menghindari penjelasan panjang lebar, saya jawab, “Iya.” Menjawab “Iya” berarti menyederhanakan permasalahan, tapi kadang itu dibutuhkan dalam negosiasi yang melibatkan orang-orang dari latar belakang budaya berbeda.

Tidak ada yang salah dari pertanyaan semacam itu. Setidaknya, pertanyaan itu muncul dari konsepsi tentang orang-orang NTT dalam pemahaman teman-teman saya. Di NTT, saya dianggap orang “campuran,” Sabu dan Manggarai. Di Yogya, saya disebut sebagai orang NTT, kadang-kadang disebut orang Timur. Bagi beberapa teman saya dari luar negeri, saya adalah orang Indonesia.
Di Kupang, saya dan teman-teman, sering melakukan diskusi sastra mingguan dalam sebuah komunitas bernama Dusun Flobamora. Diskusi tersebut masih berlangsung hingga sekarang secara rutin setelah saya hijrah ke Yogyakarta. Dusun Flobamora adalah komunitas sastra dengan kebanyakan para pegiatnya berada dan tinggal di Kupang. Sebagian lain tersebar di beberapa kabupaten dan pulau di NTT maupun di luar NTT. Orang-orang di Dusun Flobamora datang dari berbagai macam latar belakang pendidikan, etnis, bahasa daerah, profesi, dan lain sebagainya. Yang mendekatkan kami, saya pikir, adalah sastra, sebagaimana saya sering dipertemukan dengan kawan-kawan dari berbagai daerah dan latar belakang budaya karena puisi.
Dengan kata lain, identitas adalah sesuatu yang dikonstruksi, dan kita secara elastis menegosiasikan kepentingan kita dan komunitas di mana konstruksi tersebut dibangun. Ketika pertama kali saya mengikuti misa di Yogyakarta, contoh lainnya, saya mengalami teks misa umat sebagai sesuatu yang asing, karena pengalaman misa di Kupang tidak melibatkan teks misa. Itu merupakan dua pengalaman berbeda dalam tradisi Gereja Katolik yang sama.

Contoh-contoh di atas adalah sekadar contoh-contoh pembuka, karena beberapa tulisan sebelumnya di laman ini cenderung mengedepankan abstraksi tentang kebhinnekaan seolah apa yang bhinneka adalah sesuatu yang ideal dan jauh dari pengalaman kita. Nyatanya, apa yang bhinneka adalah apa yang kita alami sehari-hari. Dengan demikian, tidak ada masalah dengan hal itu. Bahasa ibu, selera musik, film, bacaan, dan lain-lain yang saya miliki berbeda dari selera teman-teman saya. Teman-teman kuliah saya, yang begitu lancar menyebutkan nama-nama kelompok musik indie berdasarkan referensi sosio-kultural yang mereka miliki, misalnya, mungkin bakal kesulitan ketika saya tanyakan referensi musik berdasarkan konteks sosio-kultural yang saya alami: “Sudah pernah dengar lagu Maksi Banusu atau Sius Otu? Apa yang membuat kalian mendengarkan lagu-lagu mereka?”

Kebhinnekaan menjadi pengalaman yang menguatkan ketika ia dihidupi dengan semangat non-esensialis, karena pada kenyataannya, interaksi kita sehari-hari adalah selalu merupakan negosiasi-negosiasi terhadap perbedaan-perbedaan. Tidak masalah saya berbeda dari teman saya, selagi masih ada bagian dan alasan lain yang membuat saya dapat berteman dengannya. Kita mencari kohesi di antara hal-hal yang tampaknya tidak kohesif.

Nasionalisme membantu kita memahami bahwa hal-hal yang tampaknya tidak kohesif tersebut ternyata bisa merekatkan. Nasionalisme membantu anak-anak SD di kampung ibu saya mengenal bahwa ada nama Budi dan Wati dan Iwan selain nama-nama macam Lado, Rae, Hehe dan Kudji, dan membuat orang-orang yang membaca tulisan ini tahu bahwa ada orang-orang bernama Lado, Rae, Hehe dan Kudji di belahan lain Indonesia selain nama-nama tiga bersaudara dalam buku pelajaran bahasa Indonesia di bangku SD.

Masalah baru muncul ketika ada oknum/kelompok tertentu yang mencari keuntungan, dan dengan mereduksi kebhinnekaan membuat hal-hal yang tampaknya tidak kohesif tersebut menjadi bahan baku untuk menegakkan tembok pemisah. Untuk ini, saya punya contoh. Di Kupang, kira-kira di akhir 1998, terjadi konflik etno-religius. Waktu itu, saya tentu saja tidak tahu apa penyebab pasti, tetapi saya ingat, hari itu mendung. Ketika para laki-laki dewasa dari lingkungan kami di Naimata pergi memblokade jalan dengan batu-batu karang dan batang-batang pohon agar jangan ada kendaraan bermotor yang sampai lewat, saya bersama ibu dan adik saya, juga ibu-ibu dan anak-anak yang lain diminta untuk mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Seorang bapak beserta keluarganya (si bapak adalah guru SD saya, anaknya adalah teman sekelas saya), yang beragama Muslim dari Alor, diminta untuk mencari tempat pengungsian yang lebih aman. Beberapa hari setelah kerusuhan mereda, saya mendapati puing-puing di dua kios milik orang-orang Bugis (kami memanggil para pemilik laki-lakinya dengan sebutan ‘Paman’). Kedua kios tersebut rupanya dibakar pada hari kerusuhan, dan agaknya barang-barang di dalamnya telah dijarah terlebih dahulu. Hari ini, di bekas salah satu puing kios tersebut, telah dibangun toko yang lebih besar, dan ada lebih banyak kios milik orang-orang Bugis yang dibangun di Naimata. Memaknai kebhinnekaan membuat orang-orang belajar, bahkan dari hal-hal yang paling menyakitkan.
Jika saya lebih banyak memakai contoh, saya hanya ingin menunjukkan apa yang terjadi dalam cara kita menghidupi dan memaknai kebhinnekaan. Kebhinnekaan membuat kita memahami apa yang kelompok kita punyai, yang berbeda dari kelompok lain, tetapi sekaligus menegosiasikan perbedaan-perbedaan itu dalam setiap interaksi kita sehari-hari, dan mengerti bahwa berbeda itu menyenangkan, meski kepada kita sesekali ditodongkan senjata atau diacungkan belati.

Salam,
Mario F. Lawi