corak 2 rszd

Apa itu Indonesia dan siapa orang Indonesia?
Pertanyaan ini sangat sederhana, namun cukup fundamental. Karena belakangan banyak orang yang mengaku orang Indonesia tetapi tidak menyadari keindonesiaannya. Hidup di Indonesia tetapi tidak paham Indonesia.

Ya, berbicara Indonesia, seharusnya menyadari nilai-nilai yang menjadi pondasi dasar terbentuknya negeri ini. Bangsa Indonesia adalah tempat berkumpulnya semua komponen masyarakat, mulai dari lintas agama, budaya, suku, ras, dan keyakinan. Lalu diikat dengan Pancasila dan UUD 1945.

Lebih sederhananya, Indonesia adalah rumah bersama bagi ia yang menghargai kebhinnekaan dan pluralitas. Karena negeri ini terdiri dari beragam suku bangsa yang berbeda; mulai dari Jawa, Madura, Bugis, Sunda, Minang, Melayu, Batak, dan lain sebagainya. Ada sekitar 748 bahasa, 34 provinsi, dan 17508 pulau di negeri ini.

Bagaimana dengan orang yang anti terhadap kebhinnekaan? Masih layakkah ia disebut sebagai bangsa Indonesia? Hal ini menarik untuk didiskusikan. Pertanyaannya lagi, siapakah ia yang bisa disebut sebagai orang yang anti terhadap kebhinnekaan?

Belakangan ini muncul sebuah kasus ‘tuduhan’ penistaan agama di Jakarta. Kemudian terjadi demo besar-besar diakhir tahun 2016 oleh banyak ormas yang mengatasnamakan diri sebagai “bela Islam”. Kemudian berkembanglah opini di media sosial yang mengarah kepada isu SARA. Sebut saja; cina, komunis, asing, dan kafir, misalnya, tengah berjibun di sosial media.

Saya pribadi menyadari kalau konteksnya adalah politik (pemilihan kepala daerah), yang masing-masing pendukung ingin mengambil simpati sebanyak-sebanyaknya dan saling menjatuhkan.
Dari kasus tersebut, saya belajar banyak hal, termasuk apa yang saya singgung di atas; banyak orang yang belum selesai dengan keindonesiaannya, dan banyak orang yang belum rampung soal kebhinnekaan dan keberagaman.

Dalam hal ini saya tidak menghakimi orang yang ikut demo besar-besaran di Jakarta yang terkenal dengan sebutan 411 dan 212 itu sebagai anti kebhinnekaan dan anti keberagaman. Karena konteks saat itu sangat klir; ini politik praktis.

Namun, yang kemudian berkembang di sosial media adalah banyaknya justifikasi kepada kelompok yang berbeda pilihan, lalu dihakimi dengan istilah yang sama; kafir, sesat, anti Islam, bahkan sampai berkembang kepada praktik haramnya menyalati jenazah bagi yang memilih calon tertentu.

Halo, ini Indonesia gais!

Stigmatisasi Kafir
Dalam tulisan ini saya ingin mengingatkan, bahwa di negara Indonesia yang menganut sistem UUD 1945 dan Pancasila ini tidak ada istilah kafir. Karena arti kata kafir, bila merujuk KBBI adalah orang yang tidak percaya Allah dan rasul-Nya. Sementara warga di Indonesia, semuanya memiliki agama, ia bertuhan, meyakini Allah dan rasul-Nya, walaupun dengan teologi yang berbeda-beda.

Oleh sebab itu, apabila kita berbicara dalam konteks keindonesiaan, yang di dalamnya terdiri banyak suku, agama, ras, dan keyakinan—dalam hemat saya, tidak ada istilah kafir. Apalagi Indonesia adalah negara yang menganut sistem demokrasi. Semua warga diberikan hak yang sama di mata hukum dan undang-undang.

Dalam pandangan Gus Dur, beliau pernah mengatakan, di Indonesia perlakuan negara itu harus sama, karena semua adalah warga negara RI. Tidak boleh ada warga kelas satu, kelas dua, dan seterusnya hanya karena berbeda suku, berbeda bahasa daerah, berbeda agama, berbeda paham pemikiran dan berbeda yang lain. Semua di mata Undang-undang sama (Wahid, 2006).

Dengan demikian, kita semua harus menyadari; siapakah kita sebenarnya? Di manakah kita tinggal dan berasal? Apakah kita sudah mengindonesia? Jangan hanya karena kebencianmu terhadap suatu kaum hingga kamu berlaku tidak adil (QS. Al-Ma’idah ayat 8). Wallahhua’lam.

Salam,

Muhammad Autad An Nasher
Aktif di Jaringan Gusdurian, bisa disapa lewat akun twitter @autad