corak 9 rszdJogja mBhinneka sebagai gagasan dan gerakan warga yang mencari kembali arti kebhinnekaan hari ini, benar-benar menyentil kita bahwa melacak ulang dimana posisi kebhinnekaan hari ini merupakan urgensi yang patut kita pertimbangkan kembali. Jogja sebagai salah satu acuan dimana keberagaman bangsa menjadi identitas hidup sebuah kota dapat menjadi jembatan untuk memperbincangkan kebhinnekaan dalam konteks luas.

Jogja mBhinneka hadir layaknya oase di tengah gurun pasir yang gersang. Kebhinnekaan dirayakan bersama-sama ketika di satu sisi ia justru semakin mengering maknanya dalam kondisi sosial budaya kita. Kebhinnekaan, seperti isu SARA misalnya, alih-alih disodorkan sebagai sesuatu yang memperkuat dan menjadi nilai baik justru dijungkirbalikkan, oleh para pewarta berita ke hadapan kita. Dari media massa hingga media sosial, semuanya penuh sesak akan beragam provokasi yang terus direpetisi. Intoleransi buah dari provokasi terus menyebar secara sporadis di sekeliling kita, tidak sedikit masyarakat dibuat hanyut atas kondisi tersebut dan sebagian sisanya menjadi apatis terhadap kondisi yang ada. Tentu hal ini harusnya menjadi perhatian bersama termasuk para generasi millennial yang kini tengah menguasai arena. Apa upaya generasi millennial dalam merawat kebhinnekaan?

Kita perlu menilik bahwa pengendali dan pemegang utama arus informasi kini digerakkan oleh berbagai pihak. Generasi millennial pecandu gawai patut kita sadari merupakan pihak-pihak yang sejatinya memiliki peranan penting dalam membagi kesadaran tentang kebhinnekaan demi menyudahi krisis solidaritas antar masyarakat. Intoleransi tumbuh dari banalitas informasi di berbagai media (massa/sosial) yang diiringi dengan minat baca masyarakat yang rendah pula. Pola barbarian dalam mengkonsumsi berita juga menjadi salah satu alasan suburnya berita palsu (hoax) tersebar. Lantas bagaimana cara untuk mencegah perkembangan fenomena semacam ini? Membaca dan berpikir kritis merupakan salah satu kata kunci untuk mencegah dampak kedangkalan informasi sekaligus persebaran berita palsu, karena dengan ilmu pengetahuan yang kita dapat dari membaca buku atau sumber informasi yang kredibel, tentu akan memberikan pijakan berpikir secara kritis dalam mengkonsumsi informasi atau bahkan membagikan informasi. Apa hanya cukup dengan itu? Bagian selanjutnya pada tulisan ini, akan mencoba melakukan analisis sederhana dalam melihat persoalan sosial yang tengah berkembang, dan di bagian akhir sebagai penutup ada upaya dalam merumuskan paradigma baru yang bisa dilakukan oleh para generasi millennial dalam merebut ruang informasi dari tangan ‘pasar’.

 

Jejak Trend Budaya Global dan Pengaruhnya

Reformasi merupakan suatu momentum titik balik rakyat Indonesia merebut kembali hak-hak konstitusionalnya sebagai warga negara yang sempat dihegemoni oleh kekuasaan rezim Presiden Soeharto yang begitu represif terhadap kritik pemerintahan kala itu. Lewat reformasi setidaknya kini rakyat telah mendapatkan akses kebebasan dalam berpendapat dan menyuarakan aspirasinya. Menariknya, sudah hampir dua dekade pasca reformasi berlangsung, baru-baru ini Presiden Jokowi mengeluarkan sebuah pernyataan tentang kebebasan berpendapat yang “kebablasan”. Kata kebebasan berpendapat perlu kita garisbawahi bersama sebagai suatu yang paradoks, kita perlu memikirkan ulang tentang apa yang sebenarnya dimaksud kebebasan berpendapat dewasa ini.

Pandangan Hannah Arendt dalam melihat pertumbuhan kapitalisme dan krisis ruang publik, ia menyebut “privat” dan “publik” sebagai kategori-kategori metafisis-politis untuk totalitas sosial. Coba kita pinjam pandangan Arendt sebagai kacamata dalam melihat konteks praktek penyampaian pendapat masyarakat kita yang dibilang kebablasan.

Meretas ruang publik adalah cara populer yang sering dilakukan oleh banyak kalangan dalam menyampaikan pendapat. Dari demo mahasiswa, supir angkot, atau bahkan kelompok keagamaan. Masing-masing kelompok memiliki motivasi beragam dalam menyampaikan pendapatnya, namun jangan lupa bahwa kelompok tersebut merupakan representasi dari yang “privat” yang sedang menggunakan ruang “publik” sebagai arenanya. Dampaknya, motivasi di balik pendapat kelompok-kelompok tersebut seakan menjadi “persoalan sosial” akibat pengaruhnya dalam menguasai ruang publik. Dari hal tersebut, kita bisa melihat urgensi kekuasaan yang sama-sama menimbulkan kondisi yang mengkhawatirkan: kebebasan hanya berpindah tempat dari hegemoni birokrasi ke kekuasaan massa. Kebebasan bagian mana yang sedang kita cari sebenarnya?

Melanjutkan pandangan Arendt tentang pertumbuhan kapitalisme, trend budaya global sebagai produk kapitalisme mutakhir telah menguasai sendi-sendi kehidupan masyarakat kita. Praktek penyampaian kebebasan berpendapat dengan demonstrasi hanyalah sebuah ilustrasi bagaimana ruang-ruang kini telah dikuasai oleh yang “privat”, atau lebih jauh dari itu kepentingan “pasar”. Di sisi lain, media sosial sebagai tempat membagi informasi dan mengekspresikan diri, kini juga telah dibanjiri iklan-iklan korporasi atau bahkan bisnis snack teman sendiri. Apakah hal tersebut salah? Jawabannya tentu tidak selama kalian juga tidak terganggu. Meski begitu, sisi baiknya paling tidak media sosial juga telah membantu kita dalam memenuhi kebutuhan informasi sehari-hari. Namun, bukan berarti media sosial menjadi sumber utama yang kredibel lho, karena kita tetap perlu melihat sumber lain untuk memastikan kebenarannya. Setidaknya dengan membaca kita bisa melihat apa motivasi/kepentingan dan siapa yang “privat” di balik konten yang dibagi.

 

Merayakan Kebhinnekaan sebagai Paradigma Optimisme Baru

Sampailah kita pada bagian ujung tulisan ini, dan semoga bisa berguna untuk para generasi millennial penguasa dunia maya. Sudah disebutkan di atas, ada dua poin bagaimana menyiasati kedangkalan berita atau informasi yang tersebar hari ini. Selanjutnya akan dibahas beberapa contoh dan langkah yang lebih konkret supaya informasi yang disampaikan bisa lebih mendalam.

Mari kita mulai dari kebutuhan atas informasi yang begitu tinggi dan serba cepat. Cepat dan tinggi ini sebenarnya sebuah persoalan karena kita terlalu sering dibuai kemudahan zaman yang tak jarang tuntutan yang begitu tinggi dengan waktu yang singkat menyebabkan kualitas informasi menjadi begitu dangkal, selain itu kapasitas penyaji informasi juga menjadi faktor penting pada kualitas hasil informasinya.

Setiap informasi yang tersebar tentu saja memiliki dampak-dampak bagi kondisi sosial di sekitarnya, menilik kondisi sosial di sekitar yang sedang memanas tentu kita perlu mencermati kembali setiap informasi yang sedang berkembang. Bisa dengan melihat bagaimana cara media menyampaikan informasinya atau dengan pola konsumsi masyarakat terhadap sebuah informasi. Berita dan masyarakat (atau sebaliknya) memang seperti sebuah cermin yang saling merefleksikan satu sama lain. Pewarta berita mengabarkan kondisi sosial dan masyarakat juga merupakan konsumen berita untuk memenuhi kebutuhan informasinya.

Generasi millennial memiliki peranan krusial sebagai pemegang jalur distribusi (bahkan produksi) informasi dewasa ini. Kedangkalan informasi telah menimbulkan dampak perpecahan yang begitu nyata di sekeliling kita. Lantas apa yang masih bisa kita lakukan? Merebut kembali ruang-ruang informasi merupakan langkah nyata dalam membangun kembali semangat kebhinnekaan demi terciptanya stabilitas sosial dan optimisme baru di tengah masyarakat. Merebut dengan cara apa?  Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah teknik KPK, yaitu : 1. Kritis dalam menganalisa sebuah informasi atau berita sebelum mewartakannya, 2. Positif dalam menyusun kata atau kalimat saat membagi informasinya, 3. Kebhinnekaan dijadikan landasan berpikir untuk menciptakan kedamaian berbangsa dan bernegara. Jika hal tersebut dipakai sebagai sebuah paradigma generasi millennial hari ini, niscaya bangsa ini akan aman, sentosa, dan dijauhkan dari malapetaka.

Wahai generasi millennial, marilah kita terus rawat semangat kebhinnekaan demi menjaga keutuhan bangsa yang besar. Semoga apa yang sudah dimulai dari Jogja bisa menular ke seantero jagat raya. Salam Jogja mBhinneka!

 

Salam,

Arga Aditya