corak 3 rszd

Ketika itu hari masih pagi, ayam goreng belum jadi, jalan di depan warung masih sepi. Dua lelaki setengah baya duduk mengobrol di depan warung, sembari menunggu makanan yang dipesan datang. Obrolan mereka terkuping meski samar, sampai muncul satu topik bahasan yang diperbincangkan dengan jelas dan keras. Salah satu lelaki, yang cuma berkaus dan bertubuh kerempeng, berseru, “saiki apa-apa dikuasai Cina, titenana, suk bakalane Cina dibeleh tenan kok! (sekarang apa-apa dikuasai Cina, lihat saja, suatu saat Cina bakal disembelih betul kok!)” Lelaki satunya, yang agak gendut dan memakai jaket hadiah diler motor, lantas mengiyakan kawannya itu, “lha saiki HP digawe Cina, apa-apa made in China, kae ana es krim barang gawean Cina! (lha sekarang HP buatan Cina, apa-apa made in China, itu saja ada es krim bikinan Cina!”

Sentimen terhadap etnis Tionghoa semakin dipertebal melalui tuduhan yang dikaitkan dengan satu ideologi atau pemikiran tertentu yakni tentang komunisme. Ideologi dan pemikiran itu sebenarnya tidak lagi bisa hidup ditengah kondisi sosial dan politik seperti hari ini. Sungguh, menurut saya, agak mustahil komunisme bangkit kembali mengingat di kancah global komunisme pun diberangus habis-habisan. Tak ada negeri komunis hari ini.

Kita sebetulnya bisa berpikir sangat sederhana untuk menyembuhkan sedimentasi kebencian terhadap etnis Tionghoa. Tuduhan “Cina komunis” yang sering dipakai jadi kata-kata menyayat etnis Tionghoa dapat dibantah dengan mudah. Bagaimana mungkin salah satu negara dedengkot kapitalisme di Asia memakai ideologi komunisme? Apalagi bersistem, berideologi komunis saja tidak. Karena itulah, kebencian yang berlabel “Cina komunis” sungguh tidak berdasar. Kita pantas mengingat wejangan Martha Kent kepada putra kesayangannya, Clark Kent (Superman), dalam film Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), “people hate what they don’t understand (orang-orang membenci apa yang tak mereka ketahui/mengerti).” Secara sederhana, kita bisa simpulkan: kebencian mengakar pada ketidakmengertian.

Sentimen kepada etnis Tionghoa memang sudah telanjur mengendap dalam benak generasi sebelum kita. Semoga, dua orang lelaki setengah baya yang membincang etnis Tionghoa dengan sentimental di warung makan itu merupakan generasi terakhir yang membenci kebinekaan. Tionghoa memang hanya satu dari sekian banyak etnis minoritas di Indonesia, meski jumlahnya relatif besar. Namun, dari etnis minoritas kita sebetulnya bisa belajar ihwal kebinekaan. Tidak akan pernah ada kebinekaan dalam keseragaman. Kebinekaan hadir dalam perbedaan dan keberagaman. Kalau memang generasi sebelum kita telanjur sentimental terhadap perbedaan, maka generasi mudalah yang diharapkan menghabisi kebencian itu.

Ada harapan yang tercatat dalam laporan jurnalistik di Solopos, 11 Februari 2017. Laporan itu menyebut generasi Y atau yang juga lazim disebut milenial adalah generasi “bahagia dan optimis”. Survei yang diselenggarakan oleh Varkey Foundation, lembaga riset asal Inggris, menunjukkan Indonesia berskor umum 90% untuk angka kebahagiaan anak muda. Dengan hasil itu, Indonesia menduduki peringkat “kebahagiaan” ke-79 dari 157 negara di dunia. Konon, salah satu faktor penyebab kebahagiaan tinggi anak muda kita adalah komitmen terhadap agama dan penghargaan tinggi akan perbedaan. Artinya, dengan pengandaian setiap warga negara berkomitmen terhadap agama yang dipeluknya dan menghargai perbedaan, Indonesia adalah negeri yang nyaman dan membahagiakan.

Komitmen terhadap agama tentu saja penting, namun tak serta-merta, alias harus diberi garis bawah atau catatan. Dalam majalah Basis No. 01-02, Tahun ke-66, 2017, Sindhunata menjelaskan, “cinta dan pengampunan sering dimasukkan dalam wilayah agama. Tapi sayang, agama sendiri sering kehilangan rasionalitas dan akal. Akibatnya, agama jadi mandul dalam menghadapi kebencian dan dendam, karena kehilangan akal dan rasionalitasnya terhadap cinta dan pengampunan. Ironisnya, agama lalu mudah menjadi tempat, di mana kaum fanatik dan fundamentalis bernaung, dan merasa aman dalam memupuk kebencian dan dendamnya.”

Agama memang seringkali dijadikan, dalam bahasa sosiologis, katup penyelamat (safety valve) berbagai tindak kezaliman. Agama dianggap sebagai tempat paling aman untuk bernaung. Segala tindak di bawah katup agama dianggap terlegitimasi Tuhan dan direstui semesta. Maka dari itu, lazim terjadi berbagai tindakan semena-mena berbaju agama. Misalnya terorisme atau radikalisme agama, pengusiran suatu golongan agama gara-gara dianggap sesat, atau secara umum bisa kita katakan sebagai konflik SARA (suku, agama, ras, antargolongan). Semestinya kita tak hidup dalam katup penyelamat, dan mulai beragama dalam keterbukaan. Sosiolog George Simmel (1908) menyatakan, “society exists where several individual enter into interaction, and a plurality becomes unity (masyarakat eksis manakala sekian individu terlibat dalam interaksi, dan pluralitas akan menjelma kesatuan).

Anak muda adalah harapan dan peluang. Anak muda masih mungkin memutuskan hendak terlibat dunia sosial kita yang bercorak multikultur, atau terseret arus kebencian kontrakebinekaan. Tantangan anak muda adalah bagaimana mengentaskan gengsi dan kemauan menerima liyan. Pengentasan gengsi penting lantaran, mengutip Sindhunata, kebencian dan kekerasan lahir dari keterhinaan. Sindhunata menambahkan, “tak hanya kaum minoritas, bahkan kaum mayoritas pun bisa dengan mudah tersulut oleh emosi kehinaan, karena merasa tersudut pada posisi korban.” Jangan-jangan, kita membenci Tionghoa lantaran merasa terhina tak punya kemampuan manajerial ekonomi dan bisnis seperti kebanyakan mereka? Mungkinkah kita membenci Yahudi juga karena terhina tak punya kecerdasan setinggi kebanyakan mereka? Duh, Gusti, kita membenci gara-gara kelemahan sendiri.

 

Salam,

Udji Kayang Aditya Supriyanto