corak 1 - rszd

Pasca gempa besar di Yogyakarta dan Jawa Tengah  tahun 2006, ribuan orang  bersolidaritas terhadap korban bencana tersebut. Ribuan relawan baik tua ataupun muda turun secara sukarela membantu masyarakat yang  terkena imbas gempa tersebut. Salah satu  kawan yang  menjadi  relawan pernah bercerita, bahwa ada dari daerah  Kecamatan Dukun, Jawa Tengah  yang mengirimkan puluhan orang untuk bekerja bakti  selama beberapa hari  di  daerah Bantul, Yogyakarta. Cerita uniknya  para relawan tersebut selain membawa berbagai peralatan kerja seperti  pacul, linggis, slenggrong, bodhem, arit dll, mereka juga  membawa berbagai sayuran yang disumbangkan untuk warga.  Para relawan  tersebut  menginap selama beberapa minggu dan setiap hari  bekerja membersihkan puing puing reruntuhan, membangun rumah  dan memasak makanan.

Cerita  menarik tersebut  berlanjut  saat  terjadi erupsi Gunung Merapi yang  sangat  besar  di tahun 2010. Warga  Bantul yang  saat  gempa dibantu kemudian membalas menjadi  relawan Merapi. Warga Bantul ini kemudian bersolidaritas dengan membuat  berbagai aktivitas, seperti mengirim bantuan, memasakkan makanan yang sehat, menyediakan ruang untuk para pengungsi dan lain sebagainya. Tanpa membedakan agama, golongan dan status korban bencana tersebut, mereka membantu denagn sungguh sungguh.

Kisah tentang  para relawan yang terdiri dari warga kampung tersebut mempunyai banyak  faedah yang  bisa diambil maknanya (dan bisa ditiru). Dari peristiwa tersebut sekelompok warga yang berlainan wilayah dan belum pernah bertemu  tersebut   mempunyai ikatan batin yang kuat. Ikatan tersebut dibentuk oleh  rasa empati, solidaritas dan semangat persaudaraan yang  kuat. Adanya rasa senasib dan sepenanggungan karena  mengalami peristiwa bencana yang menakutkan membuat  jiwa kemanusiaannya menyala. Peristiwa tersebut  menjadi  sebuah  penanda ikatan kemanusiaan yang penting, dimana warga yang tidak saling mengenal, dan kemudian hubungannya menjadi seperti saudara sampai hari ini.

Namun berbeda cerita jika saat  itu  mereka menjadi sekelompok relawan yang rasa solidaritasnya penuh dengan rasa  pilih  kasih, dengan mementingkan golongan dan agamanya saja.bayangkan bila saat itu para relawan tersebut  melakukan aksi kemanusiaan hanya untuk orang yang  sama agama dan golongannya  saja. Bayangkan bila semangat relawan tersebut hanya ekslusif  “menolong orang yang seagama, sealiran, segolongan saja”  tentu rasa persaudaran yang kuat tersebut tidak akan terjadi.

Memang tidak dipungkiri bahwa dalam beberapa dekade ini ada usaha untuk mengesampingkan (atau meniadakan) keberagaman masyarakat. Dalam suatu hasil laporan kajian tahunan yang dilakukan oleh Wahid Institute, Setara Institute, CRCS dan lainnya, mengatakan bahwa tingkat intoleransi dan radikalisme berbasis agama semakin meningkat. Secara umum kebebasan beragama dan berkeyakinan dinilai menurun, seiring dengan berbagai  tindakan intoleransi yang terus terjadi  disetiap tahunnya.

Sampai saat ini memang ada usaha dari sekelompok orang  yang berusaha untuk mendominasi dan menggeser keragaman menjadi keseragaman, dari multikultur menjadi monokultur. Setidaknya ada 3 cara yang dilakukan untuk mengacak acak keberagaman. Pertama dengan dengan melakukan tindakan anarkis, seperti  dengan melakukan  penggrebekan dan pembubaran berbagai kegiatan  dari  kelompok lain yang  berbeda. Kedua, menkonstruksi suatu wacana dan menyebarkanya, hal itu paling  mudah kita temui dalam berbagai media online yang sering kali  memberikan tafsir dan hasutan yang berisi untuk membenci liyan.  Ketiga dilakukan  dengan melakukan kegiatan yang intimidatif melalui –yang akhir-akhir ini  sedang tren- berbagai “aksi damai” yang  menggunakan massa yang besar.

Tentu saja  situasi   dan tindakan tersebut  menimbulkan banyak keprihatinan bagi  kita semua.Sebab bangsa kita sejatinya dalah negara yang di desain untuk mengakomodir keberagaman suku, agama, ras dan golongan lain. Kegiatan intoleransi yang terjadi tersebut sangat  kontraproduktif dengan kegiatan perdamaian yang  ada.

Untuk menghadapi sesuatu yang ingin merusak  keharmonisan keberagaman yang ada,mungkin kita harus  belajar dari  situasi  masyarakat saat  menghadapi  bencana. Situasi Gempa  2006 atau  Erupsi  Merapi 2010 merubah  permasalahan dan konflik yang ada didalam masyarakat menjadi rasa tepa slira, solidaritas, kebersamaan, gotong royong dan guyup rukun antar warga malah semakin kuat. Kita harus mau belajar bagaimana mbah Karyo dan mbah Surip yang sering  padu (bertengkar) karena rebutan air untuk sawah, menjadi  saling  gemati (perhatian) saat erupsi  terjadi. Bila sebelumnya mereka lebih  mementingkan ego masing-masing, kini mereka meredam ego untuk bisa hidup bersama dan berdampingan didalam barak pengungsian. Persaudaraan diantara warga menjadi  benteng yang  ampuh  untuk menjaga  dan merawat  keberagaman yang  ada.

Tentu kita tidak ingin bagaimana perdamaian atau kerukunan antar warga terjadi  dikarenakan adanya  peritiwa bencana terlebih dahulu. Untuk itu  kita  harus  selalu rajin menyemaikan bibit bibit persaudaraan untuk mendorong terwujudnya perdamaian. Persaudaraan sejati  bisa dimulai  dari  level  terkecil seperti RT/RW lingkungan kita  masing  masing dengan memperkuat rasa persaudaraan dengan warga sekitar tanpa memandang  perbedaan SARA. Misalnya dengan srawung terlibat aktif di dalam aktivitas seperti  kegiatan kerja bakti, ronda malam,dan acara sosial-kemanusiaan lainnya. Selain itu kita juga bisa mendorong munculnya persaudaraan di dunia maya dengan menyuarakan pentingnya nilai kemanusiaan dan perdamaian melalui media sosial yang dimiliki.

Jadi sesungguhnya mendorong  persaudaraan sejati untuk mewujudkan perdamaian bisa dilakukan dengan cara yang  sederhana dan tidak usah rumi-rumit, cukup dengan rajin srawung dan gotong royong. Mari  anak muda!

 

Salam,

Kresna Duta