Reporter: Yoshua Endyanto & Cyntia Ayu Hera

bandaneira1

Ini kali kedua mereka bermain di depan ratusan penikmat musik kota Jogja, dan nyatanya permainan gitar Ananda Badudu serta lentingan glockenspiel Rara Sekar plus beberapa kejutan dari duo nelangsa ria ini tidak akan pernah mengecewakan mereka yang datang!

STOMP-OUT (15/3) adalah sebuah event musik yang diselenggarakan oleh Korps Mahasiswa Komunikasi UGM (KOMAKO) di gedung Pusat Kebudayaan Hardjasoemantri (Purna Budaya). Pada gelaran pertamanya, tema bertajuk ‘media dan jurnalisme’ dipilih dengan mengusung tagline ‘STOMP-OUT : Rhythm of Critism’. Tema yang rasanya sangat pas untuk diangkat di tengah momentum menjelang pemilu dimana media seakan dibombardir sebagai sarana peningkatan citra elit-elit politik di Indonesia. R.R. Fauzi selaku ketua panitia Stomp-Out 2014 menambahkan bahwa acara ini diharapkan dapat mengajak kaum muda sekalian untuk berpikir lebih kritis dalam segala hal, terutama dalam melihat hubungan media sebagai sumber informasi. Alasan itulah yang membuat STOMP-OUT mengundang tiga band syahdu pengusung lirik kritis nan romantis sebagai sajian utama pertunjukan, yakni Jalan Pulang, Rabu, dan Banda Neira.

IMG_5829 (1)

Awal kemeriahan malam dibuka oleh Boarding Room, band dari jurusan Ilmu Komunikasi UGM yang tampil atraktif dengan membawakan beberapa lagu, ‘Aku Cinta’, ‘Aku Disini Untukmu’, dan cover ‘Happy’ milik Pharell Williams. Setelah itu, para penonton mulai berdatangan memadati venue menantikan Jalan Pulang sebagai penampil kedua. Tanpa basa-basi, Irfan R. Darajat sang vokalis langsung menyambut penonton dengan membawakan beberapa lagu yang diambil dari album pertama mereka yang belum lama ini diluncurkan. ‘Sajak Perpisahan’, ‘Di Kota Ini Tidak Ada Kamu Lagi’, ‘Lelah’, ‘Lagu Berdua’, ‘Apa Daya’, ‘Percakapan Tangis’, dan diakhiri lagu pamungkas ‘Jalan Pulang’ yang membuat penonton semakin hanyut dalam irama pop-ballads yang mereka mainkan. Di sela-sela penampilannya Irfan juga sempat merekomendasikan film ‘Di Balik Frekuensi’ karya Ucu Agustin sebagai bahan refleksi yang baik dalam menanggapi fenomena korporasi media dewasa ini. Sebuah teaser hasil wawancara dengan beberapa anak muda menanggapi media di sekitar mereka juga ditayangkan sesaat setelah penampilan Jalan Pulang. Hal ini semakin menegaskan pesan Rhythm of Critism yang ingin disampaikan panitia Stomp-Out 2014 kepada audiens.

Penampilan Jalan Pulang tampaknya merupakan awal dari kesyahduan malam itu karena Rabu kemudian hadir menuntun perasaan penonton ke titik yang lebih dalam lagi. Diawali oleh permainan gitar Wednes Mandra dan Judha Herdanta, mereka seperti ingin membuka kemistisan setiap lagu yang akan mereka bawakan secara manis. Sebuah intro yang berhasil membuat penonton bertepuk tangan kagum dan ingin segera masuk lebih dalam ke dunia misteri duo neo-folk asal Jogja ini. Suara bariton khas Wednes Mandra yang juga merupakan bassis dari Kultivasi, irama minor serta lirik penuh makna, dan ditunjang oleh stage act mereka yang dingin menjadi senjata dalam memukau para penonton. Delapan lagu dibawakan Rabu pada kesempatan itu, ‘Dru’, ‘Semayam’, ‘Dalam Tidur’, ‘Baung’, ‘Kereta Terakhir’, ‘Kemarau Bunda dan Iblis’, ‘Lingkar’, dan diakhiri ‘Telaga Kasih’.

Acara STOMP-OUT 2014 pun mencapai puncaknya ketika Ananda Badudu dan Rara Sekar telah berdiri diatas panggung disambut teriakan histeris penonton yang merindukan penampilan mereka berdua. Keheningan dan aura mistis yang dibawa Rabu ternyata pecah dengan keceriaan gesture dan gaya bicara Rara malam itu. Jarangnya Banda Neira tampil di berbagai scene musik tanah air rasanya wajar mengingat kesibukan masing-masing personilnya dan domisili mereka yang terpisahkan jarak. Ananda Badudu saat ini aktif sebagai wartawan Tempo dan menetap di Jakarta sedangkan Rara Sekar aktif di kegiatan LSM dan menetap di Bali.

IMG_6065

IMG_6026

Namun kenyataan itu justru yang membuat penampilan mereka sangat dinantikan, terlebih bagi publik Jogja yang mendapat kesempatan kedua merasakan indahnya lantunan duo folk ini. ‘Di Atas Kapal Kertas’ menjadi lagu pertama yang mereka bawakan, setelahnya kejutan pertama berhasil meronakan senyum setiap penonton karena mereka menyanyikan lagu ‘Senja di Jakarta’ dengan mengubah sedikit liriknya menjadi ‘Senja di Jogjakarta’. Keceriaan penonton menyaksikan aksi mereka semakin tak tertahankan, bahkan terkadang suara nyanyian penonton terasa lebih kencang daripada suara Rara dan Nanda itu sendiri. Kejutan dari mereka tidak berhenti sampai disitu karena Rara tiba-tiba memanggil musisi berbakat asal Jogja, Gardika Gigih, untuk ikut bermain bersama mereka dalam lagu ‘Esok Pasti Jumpa’. Permainan pianika Gardika Gigih semakin menyemarakkan suasana ceria di lagu tersebut. Lalu ‘Di Beranda’ dan ‘Rindu’ terlantun sebagai lagu penghibur berikutnya. Banda Neira ternyata terus memberikan kejutan malam itu ketika mereka akan menyanyikan lagu ‘Matahari Pagi’ yang merupakan sebuah lagu baru dan Jogja adalah kota pertama dimana lagu ini dimainkan secara langsung. Rara dan Nanda bahkan di tengah aksinya menuntun penonton untuk bernyanyi bersama dengan mengeja setiap lirik lagu untuk diikuti bersama. Lagu ‘Matahari Pagi’ diakui terinspirasi oleh perjalanan naik gunung pertama mereka di Papandayan, saat itu Rara melihat Nanda yang sedang tertidur di tengah pemandangan alam yang luar biasa. “Semua itu menjadi hal yang begitu romantis untuk ditulis!” ungkap Rara sambil tersenyum.

Setelah itu, kembali Gardika Gigih diajak naik ke panggung untuk menemani mereka memainkan lagu ‘Hujan di Mimpi’. Bukan tanpa alasan Banda Neira mengajak Gardika Gigih bermain bersama malam itu. Mereka memang sedang menggarap projek kolaborasi antara Banda Neira, Gardika Gigih, dan Layur. ‘Berjalan Lebih Jauh’ yang disambut nyanyian bersama para penonton menjadi momen paling meriah malam itu. Nanda tampak bersemangat memainkan gitarnya begitu pula Rara yang bernyanyi dengan penuh keceriaan. Lagu ‘Berjalan Lebih Jauh’ seharusnya menjadi penutup penampilan mereka, namun teriakan para penonton agar ada satu lagu tambahan lagi memaksa mereka berkompromi, encore moment memang kerap terjadi di setiap penampilan Banda Neira. Akhirnya musikalisasi puisi berjudul ‘Derai-Derai Cemara’ karya Chairil Anwar dipilih sebagai penutup penampilan mereka. Sebelum memainkannya, Rara dan Nanda sempat bercerita singkat mengenai sejarah puisi yang mereka anggap sakral ini.

Banda Neira memang menjadi bintang pada malam itu, Nanda dan Rara berhasil menggiring penonton menuju suasana nelangsa ria yang sering mereka sebut sebagai ‘jiwa’ dalam setiap lagu yang dimainkan. Pesan “Rhythm of Critisism” yang ingin disampaikan dalam acara ini pun cukup mengena karena media memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan kehidupan generasi sekarang, dan Rhythm (irama) yang disajikan dalam event ini memang bertujuan untuk memicu Critisism (kritik). Rara dan Nanda di akhir penampilannya juga sempat mengutarakan pandangannya bahwa media yang baik adalah media yang objektif dan terlepas dari kepentingan-kepentingan politik serta menggugah jiwa untuk berkembang menjadi lebih positif ke depannya.

*Foto oleh: Cyntia Ayu Hera